Jumat, 06 Maret 2015

SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…
1944

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO


Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

RUMAHKU

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu

27 april 1943 

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS


Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,

Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;

Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

PRAJURIT JAGA MALAM


Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu! 

Hampa

Hampa
Kepada Sri

Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai di puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencengkung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Sebuah Kamar

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”

Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!

Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
d luar hitungan: Kamar begini
3 x 4, terlalu sempit buat meniup nyawa!

Kepada Peminta-minta

Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga

Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah

Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku

Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku


Cerita Buat Dien Tamaela
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut

Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau...

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

Doa

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

Kawanku dan Aku

Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan

Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat

Siapa berkata-kata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga

Dia bertanya jam berapa?

Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti

Kepada Kawan

Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,

belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah berkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!

Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi
mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!

Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya

Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

Senja Di Pelabuhan Kecil

Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ayati


Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.



Kamis, 05 Maret 2015

Cash Cash Lyrics - Party In Your Bedroom-

"Party In Your Bedroom"

There's a party in your bedroom all night long
There's a party in your bedroom all night long
There's a lot of talk about you
'Cause there's a party in your bedroom all night long
Pretty girl
It's a show
Let it go when you're alone

There's a party in your bedroom all night long
There's a lot of talk about you
'Cause there's a party in your bedroom all night long
Pretty girl
It's a show
Let it go when you're alone
Lips sealed tight don't say goodnight

Walking down the street
Keepin' hush hush on the scene
No one knows you
Such a mystery
Opposite of fun 'til you turn the power on
Then you come out turning up the heat

Upstairs all alone
One click for a show
Your roof is on fire
You're losing control

There's a party in your bedroom all night long
There's a lot of talk about you
'Cause there's a party in your bedroom all night long
Pretty girl
It's a show
Let it go when you're alone
Lips sealed tight don't say goodnight

Dancing with your hands
Turning strangers into friends
Touch the keys, please
And unlock my heart
You're free to be a freak
Change your picture every week
Show the camera you're a super star

Upstairs all alone
One click for a show
Your roof is on fire
You're losing control

There's a party in your bedroom all night long
There's a lot of talk about you
'Cause there's a party in your bedroom all night long
Pretty girl
It's a show
Let it go when you're alone

There's a party in your bedroom all night long
There's a lot of talk about you
'Cause there's a party in your bedroom all night long
Pretty girl
It's a show
Let it go when you're alone
Lips sealed tight don't say goodnight

It's no debate
When I think of you
Can't stay on track
'Cause I can't wait
Can't stay on track
Can't hide the fact
You're all I want
You're all I need
Let's get this party started
Kick it hard just you and me

There's a party in your bedroom all night long
There's a lot of talk about you
'Cause there's a party in your bedroom all night long
Pretty girl
It's a show
Let it go when you're alone

There's a party in your bedroom all night long
There's a lot of talk about you
'Cause there's a party in your bedroom all night long
Pretty girl
It's a show
Let it go when you're alone
Lips sealed tight don't say goodnight

Jejak Kematian Di Lorong Sepi


Cerpen of The Month Februari 2015
Di lorong gelap, sepi dan dingin, tubuh kaku menelungkup itu menyeruakkan bau amis darah yang mengalir dari pangkal lehernya. Luka terkuak lebar hingga hampir memisahkan kepala dengan tubuh. Cairan kental berwarna merah tergenang di sekitarnya. Burung gagak hitam, memandang awas dari puncak pohon meranggas di luar lorong. Menjeritkan kicau parau mengabarkan kematian.
Musim hujan makin menggila di akhir tahun begini. Bisa-bisa hujan turun seharian penuh tanpa jeda. Berdiam di rumah adalah pilihan yang tepat untuk menghabiskan hari. Namun tidak bagiku, tepatnya tidak mungkin bagiku. Sebagai wartawan lepas untuk sebuah media massa on line, keluar rumah merupakan pilihan satu-satunya untuk mendapatkan berita terbaru dan terhangat langsung dari tempat kejadian. Semua bisa jadi berita bagiku sebab tidak ada berita, artinya tidak ada makanan.
Hujan yang turun sejak malam tadi mengakibatkan pagi ini menjadi dingin sekali. Sulit untuk menyentuh air tanpa merinding, cuci muka keputusan terbaik dari pada tidak sama sekali. Secangkir teh yang kubuat sebelum membasuh wajah di kamar mandi, masih mengepulkan asapnya. Cepat-cepat kusesap hingga rasa panas memeluk dada. Wuaahh, hangat sekali. Kutuntaskan teh pagiku dengan jantan, lalu cekatan tanganku menggamit jas hujan di atas rak. Mengenakannya dan membuka pintu rumah petak yang kusewa dari setahun yang lalu ini.
Saat pintu membuka, angin hujan menebas wajahku. Tak mau kalah, tubuhku pun lalu menghentak keluar menebas hujan berirama teratur ini, sebuah tanda bahwa hujan ini akan berlangsung lama. Jas hujan menutupi tubuh dan ranselku yang menggunung di punggung. Aku mungkin tampak seperti alien dari galaksi gulaguli. Bulir-bulir air hujan sudah sukses menggerayangi seluruh permukaan jas hujan milikku.
Mega, seorang kolegaku yang cantik jelita subuh tadi menelponku, kupikir ia ingin menyatakan cintanya padaku, karena malam itu aku baru saja bermimpi tentangnya, namun angan picisanku itu segera dipagut suaranya yang meninggi dan penuh antusias mengabarkan ada mayat pria ditemukan berdarah-darah di lorong yang menembus perut bukit, bekas rel kereta api jaman Belanda di sudut kota. Tempat itu sudah mati sejak lama, jarang dilalui orang-orang. Pengunjungnya hanyalah segelintir anak muda yang mencari tempat untuk menghisap s*bu-s*bu atau mabuk-mabukan. Sangat cocok untuk membuang mayat atau bahkan melakukan pembunuhan tanpa diketahui orang lain.
Aku sudah melihat Mega dari jauh, dia berdiri berbalut mantel hitam dan bernaung payung lebar merah marun. Matanya yang sendu dan penuh binar indah segera mendapati aku yang sedang tergopoh ke arahnya.
“Kau terlambat lagi, Amor…,” aku suka sekali dan sungguh bersyukur orangtuaku memberikan nama Amorgio Dunand, sehingga Mega bisa dengan leluasa memanggilku Amor yang berarti ‘cinta’ sepuasnya tanpa harus merasa malu. Dan juga, oke…, sayang sekali, tanpa harus merasakan cinta itu sendiri.
“Maaf, hujan menyenyakkan tidurku hingga berpuluh kali lipat!”
“Kebakaran keliling rumahmu pun tak akan mampu membangunkanmu, dasar tukang tidur. Ayo ke lokasi! Jalan saja lebih baik, hujan begini angkutan umum jarang lewat.”
Sepatu-sepatu kami berkecipak memijak genangan air hujan di sepanjang jalan. Benar, sudah hampir sampai di lokasi begini, belum ada satu pun angkutan umum yang berlalu. Prediksi yang hebat dari Mega. Di lokasi, sudah ada mobil polisi dan ambulan. Aku segera berlari sambil membuka separuh jas hujanku dan membiarkan separuhnya lagi menggantung di sebelah tubuhku. Aku meminta Mega menutupi tasku yang berisi kameraku agar tak kena hujan. Sambil berlari aku berhasil mengeluarkan kameraku, lalu bergegas mendekati lokasi kejadian. Mega ikut berlari memayungiku dari belakang.
Aku berhasil mendapatkan gambar mayat pria itu sebelum akhirnya petugas ambulan mengangkatnya ke dalam ambulan dan membawa jenazah malang itu pergi. Mega menginterview polisi dan beberapa saksi yang pertama kali menemukan mayat pria itu. Seperti biasa, dalam setiap peliputan setelah mendapatkan gambar-gambar yang penting, aku biasanya mencari-cari objek lain di sekitar TKP, mudah-mudahan ada yang unik yang bisa kujadikan koleksi foto.
Aku mengitari lorong menyapu pandanganku ke seluruh lorong beserta langit-langitnya. Lumut dan lukisan graviti usang menghias langit-langit lorong. Menjepret-jepret semua yang kuanggap menarik. Saat aku berjalan lebih jauh ke dalam, melampaui tempat mayat ditemukan, di dinding lorong sebelah kiri agak ke atas, aku menemukan noda merah berukuran lumayan besar.
Aku mendekat, membidikkan lensa kameraku dan menekan tombol zoom. Apa aku tidak salah lihat? Itu adalah jejak kaki darah. Jejak darah berbentuk kaki kanan manusia yang di sisi bawahnya mengakar aliran darah meleleh itu terlihat samar di antara lukisan graviti di dinding lorong. Tampaknya kaki itu tadi menginjak darah dan lalu menginjak dinding ini. Aku menyipitkan mata, dan membidik dengan cermat, menetapkan fokus pada kameraku dan menjepretnya beberapa kali dari berbagai sudut. Aku mencermatinya sekali lagi, ini darah baru, belum kering betul. Kalau pun benar ini jejak manusia, manusia apa yang bisa berjalan dengan cara vertikal seperti ini? Lalu jika memang dia mampu berjalan secara vertikal mengapa jejaknya hanya satu? Mana kaki kirinya? Apakah ia siluman berkaki satu? Lalu apa hubungannya dengan jasad pria itu? Kalau memang saling terhubung mengapa jejak kakinya tidak dimulai dari dimana tubuh pria itu tergolek? Ah…
Aku keluar, menemui Mega yang baru saja mewawancari seorang warga yang mengaku mendengar sebuah jeritan di malam itu dari lorong ini. Aku masih terdiam, memikirkan tentang sebuah jejak kaki darah di dinding lorong. Aku masih menimbang-nimbang apakah ini kulaporkan pada pihak kepolisian, atau kudiamkan saja dan kuselidiki sendiri. Namun, entah bagaimana, sebuah suara dari hatiku mendesakku untuk menyelidiki ini sendiri, lalu nanti kalau sudah berhasil akan menerbitkannya menjadi sebuah berita yang bombastis. Pasti bonus akan mengalir lancar ke kantong keringku ini. Dan sebuah dinner mewah akan kupersembahkan khusus untuk Mega.
“Kau kenapa Amor? Kok diam saja?”
“Tidak apa-apa… Ayo ke café biasa, aku belum sarapan. Kita sarapan dan sekalian kita tulis berita ini. Mungkin hari ini akan ada banyak berita menarik lainnya yang menunggu untuk kita liput.”
“Wuah, bersemangat sekali hari ini, Bung! Santailah sedikit, kita sudah menang dengan berita ini, kau lihat tadi? Tidak ada kan wartawan lain yang meliput? Mereka semua terlambat!! Hahaha…,” Mega melirik pada beberapa wartawan yang baru sampai di lokasi kejadian.
“Wuah, iya aku baru sadar… ayolah, aku sudah lapar!!”
Sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi sampai di mejaku, menerbitkan liur. Segera kugamit sendok dan garpu lalu melahapnya ganas. Sementara Mega masih terus saja mengaduk-aduk bubur ayam pesanannya.
“Kenapa Ga?”
“Gak selera…,”
“Kenapa?”
“Hanya orang aneh yang tetap punya selera makan tinggi saat baru saja sedetik yang lalu menyaksikan orang yang hampir putus kepalanya…,” erangnya.
Aku terdiam, tak jadi menelan nasi goreng yang sudah kumamah. Melotot padanya. Dia tergelak dan aku melanjutkan proses penelanan nasi goreng dengan tuntas.
“Maksudmu?”
“Hahahaha… aku bercanda. Ada baiknya aku menulis dulu,” Mega mengeluarkan notebooknya, siap untuk menulis berita pembunuhan penuh misteri itu.
Malam itu hujan mulai mereda, hanya gerimis ringan. Aku merapatkan jaketku, kurasa sebuah jaket sudah cukup untuk gerimis tipis begini. Niatku malam ini adalah kembali ke lorong itu. Menemukan bukti-bukti lain, yang mungkin bisa menguak misteri pembunuhan ini. Sebuah garis polisi melintang di mulut lorong, aku merunduk melampaui pita berwarna kuning itu. Bekas-bekas darah masih dibiarkan utuh, mungkin guna keperluan proses penyelidikan. Seram sekali berada di lorong malam-malam begini, apa lagi tadi, di sini, terbaring mayat korban pembunuhan. Tapi kutepis semua itu, demi menggemukkan rekeningku. Dengan bantuan semburat cahaya tipis dari lampu jalan di luar lorong aku berjalan masuk. Burung gagak tak henti meraung. Menambah nuansa mistis yang mampu menaikkan bulu roma siapa saja.
Aku sudah sampai di sisi dinding di mana jejak itu tadi pagi kutemukan. Aku menggamit senter dari kantong yang memang sudah kupersiapkan sejak tadi. Kusorotkan lampu senter ke sisi dinding. Benar, jejak itu masih ada di sana. Aku menebar sinar senter ke segala arah, berharap menemukan pertanda lain yang bisa membantu investigasiku ini. Tidak ada apa-apa lagi selain lumut dan lukisan graviti pudar. Aku kembali memfokuskan cahaya senter pada jejak darah. Setelah lamatku perhatikan, sepertinya ada yang berubah dari bentuk jejak itu, tumitnya sudah mulai menghilang. Sepertinya ada seseorang yang berusaha menghapusnya dengan sesuatu. Wuah ini menarik!! Siluman, monster atau apa pun itu sadar, bahwa dia telah meninggalkan jejak yang bisa membongkar kejahatannya. Tapi siluman yang bagaimana pula yang takut akan kejahatannya terbongkar? Ini semakin misterius namun semakin menarik. Aku mengeluarkan kameraku dan kembali menjepret jejak itu sebagai dokumentasi dan bukti.
Tring!!! Tiba-tiba otakku menemukan suatu rencana. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Monster pembunuh ini belum selesai dengan pekerjaannya di sini karena suatu hal, pasti ia akan kembali untuk menghapus jejak ini hingga hilang seluruhnya. Dan aku harus bersembunyi di suatu tempat dan siap dengan kamera di tangan. Siap untuk menjepret mahkluk apa pun yang datang untuk menghapus jejak darah itu. Ya, ya… yaa…, kadang-kadang aku cerdas juga.
Setengah berlari aku berlari menuju ujung lorong, di sana ada bekas dinding yang hampir roboh yang bisa dipergunakan untuk bersembunyi dan bisa memandang bebas ke dalam lorong. Aku jongkok di sebalik dinding, menggenggam kameraku dan memasang telinga dengan baik. Berusaha menangkap suara apa pun yang hadir di kesunyian ini. Hujan yang sudah reda, sungguh membantu aku mendengarkan suara yang ingin kudengar.
Sepuluh menit berlalu, hanya lolongan anjing dan deru kendaraan dari kejauhan yang terdengar. Belum ada tanda-tanda mencurigakan dari dalam lorong. Aku sudah mulai bosan. Perutku sudah berderik-derik kelaparan, aku baru ingat belum makan malam, ah sebegini parahnya kah pekerjaan sebagai detektif itu? Aku bersumpah tak akan mau jadi detektif. Tak sampai semenit kemudian, jantungku menegang, ada suara langkah berderap pelan dari dalam lorong. Itu dia!!!! Ya Tuhaaan… lindungilah hambamu ini. Aku tak tahu kapan harus menjepretkan kameraku ke arah lorong. Tapi instingku berujar nanti saja. Suara derap langkah berhenti, disusul kemudian suara dinding digosok-gosok oleh sesuatu.
Yap!! Ini saatnya kameraku bertugas.
“Jepreeett!!! Jepreett! Jepreett!” lampu blitz menyala-nyala ke dalam lorong. Aku hanya menjulurkan lenganku ke luar tembok ke arah lorong. Tanpa sebilah nyali pun untuk menyaksikan mahkluk apa nun di dalam lorong sana. Setelahnya, aku lintang pukang berlari ke rumah.
Dengan dada berdegup super kencang, aku mendentumkan pintu rumahku. Dan bersandar di daun pintu yang telah terkatup, aku merosotkan tubuhku ke lantai dan memandang kameraku. Aku merasakan bibirku bergetar keras. Lalu aku merutuki diri betapa pengecutnya aku. Takut-takut kutekan tombol pada kamera yang berfungsi untuk menampilkan foto-foto yang sudah diambil. Sesosok manusia siluman mengerikan yang bertengger dan menempel ringan secara vertikal di dinding lorong tampil di foto. Membelalakkan mataku dan hampir memberhentikan jantungku.
Aku menekan tombol off dengan susah payah karena tanganku bergetar hebat sekali. Aku menarik napas terus-menerus berusaha mendatangkan keberanian pada diriku. Takut sudah merajaiku. Mahkluk apa itu? Kalau dia adalah sejenis makhluk yang tak suka dirinya diabadikan dalam foto lalu dia marah dan mengejarku bagaimana? Siaal! Belum sempat aku menetralisir rasa takutku. Suara ketukan pintu melonjakkan tubuhku.
“Si… si… apaa?” tanyaku terbata. Sang pengetuk tak menjawab. Dia hanya mengetuk pintu rumahku itu tiga kali lagi.
Jangan-jangan ini mahkluk tadi. Kacau! Mati akuuu! Bisa-bisa besok aku yang jadi berita. Tidaaakkk!!!
“Si… si… siapa…? Kalau tidak menjawab tidak akan kubukakan pintu…”
“Ini aku, Megaa… Buka, Amoorr!”
Aku menarik napas lega, ah ternyata cuma Mega. Aku berdiri, menarik napas dalam dan mengeluarkannya melalui mulut. Merapikan rambut dengan sepuluh jariku dan menata-nata bajuku yang sedikit berantakan. Perlahan aku membuka pintu.
“Oh, kau Mega, ada apa malam-malam begini?”
“Boleh aku masuk dulu? Biar kuceritakan di dalam?”
Aku mengangguk keras, “Oh tentu saja!” untuk kau bidadariku apa yang tidak kuberi.
Mega duduk dengan santai di satu-satunya sofa, di ruang depan rumahku. Dia sungguh seksi malam ini. Ah andai saja… Upsss… buyarkan pikiran kotor, Amorrr!!!
“Aku boleh lihat kameramu itu tidak?”
“Ini?” aku mengangkat kamera yang sejak tadi kugenggam. “Untuk apa?”
“Tidak ada apa-apa, cuma mau lihat saja, boleh kan??”
“Boleh saja, tapi tidak ada yang penting, cuma foto mayat yang tadi pagi. Ah sudahlah tidak usah nanti kau jadi tidak selera makan. Kubuatkan kopi yaa??”
Aku berbalik, Mega berdiri dan menyentuh pundakku dari belakang. Sentuhannya dingin sekali, sedingin es yang menusuk hingga ke kulit, padahal aku sedang memakai jaket tebal. Aku berbalik, betapa tercekat saat mendapati wajahnya yang pucat dan tersenyum aneh. Dan senyum itu bukan senyuman Mega yang manis seperti biasa. Senyum itu mengerikan.
“Benarkah tidak ada foto yang penting?” suaranya lembut, namun mampu membangkitkan bulu kuduk.
“Ten… tentu saja benar…,” jawabku terbata. Mega membebat langkahku, ia sudah di depanku kini.
“Foto yang baru kauambil beberapa menit yang lalu itu bagaimana?”
Jepp!! Jantungku seolah terhenti, bagaimana Mega bisa tahu?? Sudah kuyakinkan tidak ada siapa pun di sana tadi.
“Maksudmu??”
Mega tak menjawab pertanyaanku, ia lalu menarik paksa kamera di tanganku. Menekan tombol on dan menunjukkan foto seram itu tadi padaku.
“Ini!!” suara Mega meninggi dan berubah serak.
“Bagaimana kau bisa tahu??” Rasa takut dan khawatir kembali memelukku.
“Karena yang kau foto ini adalah AKUUU!!!” tubuh Mega serta merta membiru, matanya merah menyala, dua bilah taring menyilau dari sela bibirnya. Kuku-kukunya hitam memanjang.
“Mee… mee… gaaa?”
Aku beringsut mundur, mataku tidak mempercayai ini dan berharap ini hanya mimpi aneh tentang Mega yang selama ini kualami tiap malam karena aku terlalu mencintainya diam-diam. Aku menggelengkan kepala, menutupnya sebentar dan membuka lagi. Sosok menyeramkan itu masih ada di sana. Kuku tajamnya melayang di udara seinci di depan leherku.
“Kauuu… haruuus matiiii…,” suara Mega sudah berbeda, serak dan dalam.
“Megaaa… ini akuuu… aku mencintaimu sayang… bahkan jika kau adalah seorang silumaann!!”
Ah, apa tadi itu? Aku menyatakan cinta dalam keadaan seperti ini? Bodoh!
“Tidaaakk… tidaakk ada yang boleh mengetahui keberadaan kamii… itu berbahaya!”
“Kamii? Masih ada yang sepertimu di luar sana?”
“Yaaa… Maafkan aku Amooorrr… ini adalah balasan sepadan untuk orang yang selalu ingin tahuuu…”
Mega menebaskan kuku tajamnya ke leherku. Aku roboh dengan kepala nyaris putus. Darahku muncrat kemana-mana, lalu darah mengalir deras dari robekan leherku. Mataku membelalak dengan mulut menganga. Sungguh mengerikan, persis seperti kondisi mayat pria yang kufoto tadi pagi.
Mega menerobos masuk ke deretan polisi yang sudah berkerumun di rumahku. Mengambil gambarku yang tewas mengenaskan dan mewawancarai beberapa polisi. Ia tersenyum di atas mayatku sebelum berlalu pergi untuk menulis berita kematianku. Dan lagi-lagi dialah wartawan pertama yang berada di lokasi kejadian untuk meliput berita. Dasar siluman keji.
Medan, 2013
Cerpen Karangan: Yunita R Saragi
Facebook: Yunita Ramadayantie Saragi

Rabu, 04 Maret 2015

Namanya Vino

Cerpen Of The Month Januari 2015

Aku pikir semuanya akan berakhir indah. Tapi aku salah. Aku terlalu bernafsu mendahului keputusan Tuhan.
“Aaaaaa!” aku berusaha mengeluarkan semua beban di hati ini.
Aku menghela napas panjang. Aku terdiam sesaat. Aku masih tidak mengerti kenapa semuanya terjadi di luar dugaan dan parahnya semua berakhir dengan begitu menyedihkan. Aku mengambil beberapa buah batu yang ada di sekitarku kemudian melemparkannya ke kolam satu demi satu.
“Buat lo yang udah khianatin gue!” “PLUK!” batu pertama aku lempar dengan sekuat tenaga.
“Buat lo yang udah bikin orangtua gue kecewa!” “PLUK!” begitu juga dengan batu kedua aku lempar dengan sekuat tenaga.
“Buat lo yang.. yang..” aku menghela napas lagi.
“Yang apa?” kata seseorang tiba-tiba. Aku terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba itu. Pria yang berkulit putih, berhidung mancung dan berambut hitam lurus itu duduk di sebelahku. Aku memperhatikannya dengan seksama. Dia memandang ke arah kolam. Tiba-tiba dia menutup matanya. Dia menikmati gemericik air yang berasal dari air mancur di tengah kolam. Dia menghirup udara segar. Tampak damai sekali. Dia membuka matanya. Ups! Aku langsung memalingkan wajah. Tentunya aku malu kalau dia sampai mendapatiku sedang memperhatikannya.
“Ayo dong kamu coba juga” katanya.
Aku menoleh ke arahnya. Aku menunjukkan ekspresi kalau aku tidak berminat.
“Ayo! Pejamkan mata kamu dan nikmati udara segarnya” pria itu berlagak memerintah.
“Penting ya?” aku yang sedikit merasa terusik dengan kedatangan dan permintaan konyolnya itu menjadi sedikit kesal.
“Ayolah. Sekali aja” pria itu memaksa.
Dia memejamkan matanya sekali lagi. Menghirup udara bebas lagi, dan sangat menikmatinya. Akhirnya, aku pun tergerak untuk mencoba. Aku mulai memejamkan mataku. Aku menghirup udara segar seperti yang dilakukan pria itu. Aku menghirupnya lebih dalam. Bahkan aku bisa mencium wangi berbagai bunga yang ditanam di sekitar taman. Padahal sedari tadi aku tidak menyadari bau wewangian yang menyegarkan itu. Suara gemericik air semakin menambah kedamaian yang sedang aku rasakan. Nyaman sekali. Aku mengulanginya berkali-kali sampai akhirnya aku membuka mataku lagi.
“Enak kan?” sahutnya kepadaku yang baru saja membuka mata. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Pria ini benar-benar pandai membawa suasana.
“Undangan pernikahannya bagus. Perpaduan warna yang manis dengan kesan mewah” dia mengambil sebuah undangan pernikahan berwarna merah muda dengan dominasi silver yang berada di atas tasku.
“Tapi nggak semanis kenyataannya”
“Maksudnya?” kali ini pria itu berlagak menyelidik.
“Itu undangan pernikahanku. Seharusnya hari ini aku menikah. Tapi ya beginilah kenyataannya. Padahal persiapan sudah hampir selesai. Undangan itu juga sudah siap dibagi. Tapi lelaki itu menghancurkan semuanya. Sejak awal, hubunganku dan dia tidak direstui oleh orangtuanya. Orangtuanya sudah mempunyai pilihannya sendiri. Sebenarnya aku ragu melanjutkan hubungan ini. Orangtuaku berkali-kali menanyakan apakah aku yakin dengan pilihanku. Tapi aku melihat kesungguhannya memperjuangkan hubungan kami. Aku pun menjadi yakin untuk meresmikan hubunganku dengannya. Tapi setelah itu, kejadian yang tidak pernah kuduga terjadi. 
Ayahnya sakit keras. Dia takut kalau sampai akhir hayat Ayahnya dia belum sempat membahagiakannya. Menurutnya, saat itu satu-satunya cara yang bisa dia lakukan untuk membahagiakan Ayahnya adalah dengan menuruti permintaan Ayahnya. Dimana Ayahnya ingin dia menikah dengan wanita pilihannya. Dia bilang dia sudah menjelaskan kalau sebentar lagi dia akan menikahiku. Tapi Ayahnya memberikan pilihan yang sulit. Aku atau Ayahnya. Akhirnya dia lebih memilih Ayahnya dengan kata lain bahwa dia lebih memilih bersanding dengan wanita itu. Hal yang membuat aku hancur adalah kenapa semuanya harus terjadi ketika sudah sejauh ini? 
Kami hampir berhasil menyeberangi rintangan kami. Tapi ternyata dia membiarkan aku melewati sisa rintangan itu sendiri. Dia memilih jalan yang lebih aman bersama wanita itu daripada melewati jalan yang penuh rintangan bersamaku” pipiku mulai basah oleh air mata yang tak terasa semakin bertambah deras.
“Bayangin deh kalau kamu ada di posisi dia. Kamu bakal pilih dia atau Ayah kamu?” aku terenyak mendengar pertanyaan itu.
“Bayangin kalau seandainya saat ini kamu menikah sama dia. Perasaan Ayahnya pasti kecewa kan? Artinya kamu sudah membiarkan suami kamu sendiri menjadi anak durhaka. Kamu juga menyandang status menantu yang durhaka. Belum apa-apa sudah membuat Ayah mertuamu kecewa” pernyataan pria itu semakin membuat aku membisu dalam tangis.
“Kamu tau nggak, kenapa calon suami kamu membiarkan kamu melewati sisa rintangan kamu sendiri? Karena dia tahu setelah kamu berjalan dan berhasil melewati rintangan itu kamu akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang melebihi apapun. Bahkan aku yang baru kenal kamu aja yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaan di ujung jalan yang penuh rintangan itu. 
Walaupun aku nggak tau seperti apa bentuk kebahagiaan itu. Kamu tahu caranya mendapatkan kebahagiaan itu? Kamu harus ikhlas. Ikhlas dengan semua kejadian yang kamu alami. Kamu boleh berencana, tapi ingat Tuhan tetap perencana yang paling hebat. Tuhan pasti punya rencana yang jauh lebih indah. Intinya, mulai sekarang kamu harus belajar mengikhlaskan semuanya dan kamu harus yakin kalau Tuhan pasti akan selalu memberikan yang terbaik” apa yang dikatakan pria itu memang benar.
Aku tidak seimbang dalam melihat keadaan. Aku hanya melihat kejadian yang aku alami dari sisi negatif saja. Semua kata yang terucap dari bibir pria itu benar-benar membuatku tenang dan mebuatku sadar akan semuanya. Membuatku sadar kalau aku masih punya Tuhan. Air mataku pun berhenti mengalir hanya saja masih sesenggukan.
“Masih butuh bahu untuk menangis?” pria itu menawarkan bahunya untuk bersandar. Benar-benar pria yang pengertian, ujarku.
“Nggak. Terima kasih” aku menolak secara halus. Aku baru pertama kali bertemu pria ini dua puluh menit yang lalu. Tentu saja aku tidak boleh sembarangan. Walaupun rasanya ingin sekali menyenderkan kepalaku yang terasa berat ini pada bahunya yang bidang. Mungkin akan terasa sangat nyaman.
Aku mencoba mencari tissue di dalam tas untuk mengeringkan sisa air mataku. Ah! Ternyata tidak terbawa. Aku pun hanya mengusap sisa air mataku menggunakan tangan.
“Pakai ini, Vionita” pria itu memberikan sehelai sapu tangan berwarna cokelat muda. Aku pun dengan senang hati menerimanya. Lalu segera mengeringkan pipiku yang masih basah menggunakan sapu tangan itu.
“Ngomong-ngomong kamu tau namaku darimana?” dari dua puluh menit yang lalu, aku merasa belum sempat memperkenalkan diri karena terlalu larut dalam cerita yang sebenarnya tidak patut aku ceritakan. Pria itu hanya menunjukkan namaku pada undangan pernikahan yang ia pegang sejak tadi.
“Oh iya aku lupa” aku tersenyum malu.
“Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya. Semoga kita dipertemukan lagi di lain waktu. Oh iya, kamu cantik kalau senyum” pria misterius itu bangkit dari tempat duduk dan mulai melangkah pergi meninggalkanku yang masih terdiam di bangku taman. Tapi entah kenapa ada perasaan tidak rela ketika pria itu pergi.
“Tu.. Tunggu! Siapa nama kamu?” bodohnya aku belum sempat menanyakan namanya.
“Ada di undangan pernikahan kamu!” pria itu berteriak dari kejauhan.
“Terima kasih ya!” aku pun sampai lupa mengucapkan terima kasih pada pria yang telah berbaik hati mendengarkan semua cerita pilu tentangku. Dia hanya membalas dengan acungan ibu jari.
Sebenarnya aku bingung dengan jawaban pria itu. Kenapa jawabannya ada di undanganku? Aku pun segera mengeceknya. Aku membolak-balik undangan itu. “Mana namanya? Apa maksudnya?” gumamku lirih. 
Lalu aku berinisiatif membuka undangan itu. Tampak coretan di atas nama mantan calon suamiku dan di bawahnya ada sebuah tulisan. “Vino Ariansyah Putra?” aku mencari-cari sosok pria itu. Ternyata dia sudah menghilang. “Jadi namanya Vino” batinku. Oh iya! Aku baru sadar kalau nama calon pengantin dalam undangan itu kini berubah menjadi Viona Putri dan Vino Ariansyah Putra. Kapan dia melakukan ini semua? Ada-ada saja ulahnya. “Eh! Nama kita juga mirip” batinku senang. Aku jadi senyum-senyum sendiri.
Vino, sesosok pria misterius itu berhasil membebaskanku dari belenggu kisah sendu. Kedatangannya yang tiba-tiba, lalu mengajakku relaksasi, mendengarkan ceritaku, memberikan nasihat bijak, memberikan sapu tangan, sampai mengganti nama mantan calon suamiku dengan namanya, semua itu mengukirkan kenangan singkat yang sangat manis dan penuh makna. Aku akan sangat bahagia jika suatu saat aku dipertemukan lagi dengan Vino. Apalagi kalau sampai dia adalah pria yang dikirimkan Tuhan sebagai pengganti yang sesungguhnya akan menjadi jodohku seperti apa yang dia tulis di undangan pernikahan itu. “Semoga saja ya Vino” gumamku penuh harap.
Cerpen Karangan: Merida Hani Pratiwi
Facebook: Merida Hani Pratiwi